Nabi pandai membaca, menulis

Makna perkataan al-Qur’an ummiy telah dikelirukan oleh para ulama palsu Islam zaman dahulu. Mereka mengertikan kalimat tersebut kepada buta huruf. Lalu Nabi Muhammad, “Nabi yang ummiy” (7:157-158), dikatakannya tidak pandai membaca dan menulis. Ajaran mereka diterima tanpa ragu oleh hampir seluruh umat Islam sejak dari zaman dahulu hingga ke hari ini. Continue reading

Kufur Nikmat, Yang Membatalkan Syahdatain (2)

23shawa Kufur Nikmat, Yang Membatalkan Syahdatain (2)2. Mengingkari Nikmat Allah, baik yang kelihatan atau yang tidak kelihatan, baik yang mudah difikirkan atau yang memerlukan pengkajian secara mendalam

Karena segala nikmat itu datangnya dari Allah SWT, kita telah meyakini bahwa pengertian Tuhan Yang Maha Kuasa adalah Dia sebagai Murabbi, Pemimpin Yang Maha Tinggi dan Pemberi nikmat. Bahkan kita harus meyakini bahwa suatu bencana yang menimpa kita pada hakekatnya dari Allah, Dia adalah selaku Pemberi nikmat dan Penghalangnya. Sebab dalam urusan memberi dan menahan nikmat bukan urusan manusia, tetapi sepenuhnya hak Allah SWT. Continue reading

Bertawakal Kepada Selain Allah, Yang Membatalkan Syahadatain (1)

53shawa Bertawakal Kepada Selain Allah, Yang Membatalkan Syahadatain (1)Sering kita mempelajari mengenai penyebab akan batalnya wudhu, sholat , puasa , haji dan lain lainnya,  tapi jarang sekali kita membahas mengenai sebab sebab batalnya keimanan dan syahadatain , terkait dengan itu, kami kembali menulis ulang mengenai apa dan kenapa syahadatain tersebut menjadi batal dan terjerumus kepada bahaya syirik, Tulisan dibawah ini ditulis oleh Ulama Syiria, Almarhum Said Hawwa secara berseri, yang dikutip dar buku fenomenalnya Al Islam, semoga peringatan beliau yang berdasarkan nash nash ayat ayat Al Quran dapat membuat kita semua tersadarkan akan bahaya batalnya keimanan, semoga Allah menjaga kita semua untuk tetap memegang teguh cahaya keimanan di akhir zaman ini,..Aamiin. Continue reading

Cinta Lelaki Mulia

63oaseiman Cinta Lelaki MuliaOleh : Omurazza
Di Thaif, lelaki mulia itu terluka. Zaid bin Haritsah yang mendampinginya pun ikut berdarah ketika berusaha memberikan perlindungan. Penduduk negeri itu melemparinya dengan batu. Padahal, ajakannya adalah ajakan tauhid. Seruannya adalah seruan untuk mengesakan Allah. “Agar Allah diesakan dan tidak disekutukan dengan apapun.” Namun, Bani Tsaqif malah memusuhinya. Pejabat negeri itu menghasut khalayak ramai untuk menyambutnya dengan cercaan dan timpukan batu. Continue reading
WordPress theme: Kippis 1.15